Memahami Komunikasi Organisasi Melalui Pendekatan Konsepsi Syuro Sebagai Langkah Awal DEMA (Dewan Mahasiswa).

Salah satu sarana bagi mahasiswa  untuk mengembangkan kapasitas kemahasiswaannya, yang berupa minat, bakat, ide kreatif serta positif dan aspiratif adalah dengan mengikuti berbagai kegitan-kegiatan maupun organisasi-organisasi yang tersedia dan dilaksanakan di kampus, sebagaimana Darunnajah Business School yang baru saja melakukan pemilihan ketua DEMA (Dewan Mahasiswa). DEMA adalah salah satu organisasi mahasiswa intrakampus yang berfungsi sebagai perantara dan penyambung informasi antara mahasiswa dan seluruh sivitas akademik di kampus.

Dalam pelaksanaan kegiatan organisasi  DEMA, maka langkah awal yang perlu diperhatikan adalah pemahaman mengenai komunikasi dalam berorganisasi terlebih salah satu fungsi organisasai DEMA adalah sebagai penyambung informasi, dimana komunikasi menjadi alat penting dalam proses perpindahan informasi. Dalam berorganisasi khususnya dalam hal ini DEMA, komunikasi antara anggota DEMA dan sivitas akademik sangat memengaruhi berjalannya pelaksanaan kegiatan-kegiatan yang akan diadakan di kampus dan pada akhirnya menentukan tercapai tidaknya tujuan kegiatan tersebut.

Komunikasi Organisasi

Dalam komunikasi organisasi terdapat komunikasi formal maupun informal. Komunikasi formal adalah komunikasi yang mengikuti rantai komando resmi atau bagian dari komunikasi yang dibutuhkan untuk melakukan pekerjaan. Sementara komunikasi informal adalah komunikasi organisasi yang tidak didefinisikan oleh hieararki struktur organisasi. Sistem komunikasi informal memenuhi dua tujuan organisasi, yaitu memberi kesempatan pada anggota organisasi untuk berinteraksi sosial dan meningkatkan kinerja organisasi dengan menciptakan saluran komunikasi alternatif yang sering kali lebih cepat dan efisien (Munandar et al 2014).

Arah Aliran Komunikasi

Aliran komunikasi dalam organisasi dapat mengarah dari ketua kepada anggota (downward).  Anggota kepada ketua (upward), dalam tingkat organisasi yang sama (lateral), maupun lintas bidang dan tingkat organisasi (diagonal).  Komunikasi yang mengalir dari ketua kepada anggota merupakan downward communication. Komunikasi digunakan untuk memberikan informasi, pengarahan, koordinasi, dan evaluasi anggota. Upward communication yang mengalir dari anggota kepada ketua agar seorang ketua mengetahui apa yang anggota rasakan tentang pekerjaan mereka, rekan kerja, dan organisasi secara umum. Lingkup   upward communication yang lebih luas tergantung pada budaya organisasi. Jika seorang ketua menciptakan iklim saling percaya dan menghargai, serta memberdayakan pengambilan keputusan partisipatif, maka upward communication bisa dipertimbangkan sebagai sarana anggota memberikan masukan untuk pengambilan sebuah keputusan.

Sementara komunikasi lateral (horizontal) merupakan komunikasi yang terjadi diantara para anggota pada tingkatan yang sama pada suatu organisasi.  Contoh dari komunikasi lateral (horizontal) adalah penyampaian informasi dari ketua bidang perpustakaan kepada ketua bidang humas terkait dengan pencarian narasumber yang tepat untuk penyelenggaran acara bedah buku terkait bisnis. Sedangkan komunikasi diagonal adalah komunikasi yang memotong bidang kerja dan tingkatan organisasi agar lebih efisien dan cepat. Contoh dari komunikasi diagonal adalah wakil sekretaris DEMA menyampaikan keluhan terkait surat menyurat kepada sivitas kampus yang disampaikan langsung kepada wakil ketua DEMA.

Konsepsi Syura dalam Berorganisai

                 Bersandar pada upward communication sebagai salah satu sarana bagi anggota organisasi untuk memberikan masukan dalam pengambilan keputusan, maka Islam dalam manajemen syariahnya sudah lebih dulu menerapkan konsep tersebut melalui contoh dari baginda Rasullullah SAW sebagai seorang pemimpin pemerintahan.  Sesuai dengan firman Allah pada surat As-Syu’ara (26): 38, “sedang urusan mereka (diputuskan) dengan musyawarah antara mereka”, pada ayat ini Allah mewajibkan kepada kaum Muslimin untuk saling tukar pendapat (bermusyawarah) antara pemimpin dan bawahan dalam semua level manajemen dan kepemimpinan, serta untuk berbagai urusan. Sehingga Rasulullah dalam menjalankan pemerintahannya selalu berpegang teguh pada konsep syuro, dan meminta pendapat para sahabat yang memiliki keahlian dan pengalaman untuk menyelesaikan persoalan, baik dalam bidang politik, ekonomi, peperangan ataupun manajemen pemerintahan. Sering kali Rasulullah menggunakan pendapat para sahabatnya sebagai pijakan untuk menetapkan keputusan.

Rasulullah membentuk majelis syura yang beranggotakan 14 orang dan para sahabat pilihan, yakni para sahabat yang memiliki pengetahuan luas dan tajam analisisnya, memiliki kelebihan intelektual, tingkat keimanan yang tinggi dan rajin mendakwahkan Islam. Anggota majelis syura ini  terdiri dari sahabat Muhajirin dan Anshar, pembentukan majelis syura ini diharapkan bisa mengambil keputusan yang komprehensif dan mengakomodir kepentingan semua golongan (Abu Sinn 2011).

Dalam syura atau bermusyawarah terdapat kekuatan dan keterkaitan antara kaum Muslimin. Syura mendorong munculnya pemikiran kolektif, pemahaman bersama, dan menguatkan rasa ukhuwah di antara kaum Muslimin. Islam mendorong umatnya untuk menguatkan persatuan dan persaudaraan di antara kaum Muslim.  Hal ini diperkuat oleh firman Allah, dimana pada ayat ini Allah memperingatkan agar selalu bersatu dan tidak saling bertentangan,  “Dan taatlah kepada Allah dan Rasul-Nya dan janganlah kamu berbantah-bantahan, yang menyebabkan kamu menjadi gentar dan hilang kekuatanmu dan bersabarlah, sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar” (Al-Anfal (8):46).

Rasalullah  menganggap bahwa keluar  dari jamaah dan kesepakatan yang telah terbentuk dalam musyawarah, dan mengganti pendapat pribadinya adalah bentuk kemurtadan jahiliyah. Beliau bersabda,”Barang siapa yang keluar dari ketaatan dan memisahkan diri dari jamaah, kemudian mati, makai a mati jahiliyah”.

Semua indikasi ini menguatkan bahwa konsep syura merupakan konsep dasar manajemen Islam dalan berorganisasi. Dimana syura sebagai salah satu cara terbaik dalam berkomunikasi antar semua elemen anggota organisasai dalam pengambilan sebuah keputusan.  Maka DEMA sebagai salah satu bentuk organisasi diharapakan bisa memahami dan menjalankan konsep syuro sebagai sarana berkomunikasi dalam  pengambilan keputusan untuk mencapai visi dan misi organisasi yang telah ditargetkan.

by Nur Majdina, M.Si

Pustaka:

Munandar, J.M, et al. 2014. Pengantar Manajemen Panduan Komprehensif Pengelolaan Organisasi. Bogor: IPB Press.

Abu Sinn, A.I. 2011. Manajem Syariah. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada.