Penerapan Sistem P.O.A.C.E Dalam Menjalankan Sebuah Keorganisasian

Dalam menjalankan sebuah organisasi,penerapan sistem yang baik sangat di perlukan untuk menjamin mutu kinerja para anggota organisasi , karena sebuah sistem lah yang menjadi pedoman para anggotanya dalam melangkah untuk merealisasikan tujuan di bentuknya organisasi tersebut. Dampak dari tidak adanya sebuah sistem dalam keorganisasian sangat banyak, kita ambil satu dampak besar, yaitu ketika sebuah sistem tidak diterapkan dalam keroganisaisan maka dibentuknya organisasi itu dan adanya anggota di dalamnya hanya akan menjadi formalitas semata di bentuk nya organisasi, karena anggota yang ada di dalam organisasi tersebut tidak tau kemana arah organisasinya tujuan apa yang mereka inginkan dan apa tugas dari masing-masing individu organisasi tersebut. Ini hanya satu point dari banyaknya dampak negative yang akan muncul ketika sebuah organisasi tidak menerapkan sistem yang baik dalam menjalankan keorganisaisannya.

Ada banyak sistem yang dapat di terapkan dalam menjalankan sebuah keorganisasian, seperti contoh nya dalam lingkup ekonomi yaitu seperti: Sistem Ekonomi Tradisional, Sistem Ekonomi Pasar, Sistem Ekonomi Campuran, Sistem Ekonomi Sosisalis, Sistem Ekonomi Pancasila dll. Tapi di sini penulis akan memamparkan sistem yang cocok untuk diterapkan dalam organisasi yang di ambil dari pengalaman penulis sendiri ketika berkecimpung dalam organisasi yang bergerak di ranah kePRAMUKAAN. Sistem ini di sebut dengan sistem P.OA.C.E.

P.O.A.C.E, Mungkin sebagian dari kita masih bertanya tanya apa sih P.O.A.C.E itu dan mengapa sitem seperti ini di anjurkan penerapanya dalam menjalankan sebuah organisasi.? Sekarang mari kita uraikan kepanjangan dari P.O.A.C.E P:PLANNING O:ORGANIZING A:ACTUATING C:CONTROLLING E:EVALUASING

  1. PLANNING

 Atau yang dapat kita katakan perencanaan, agar terwujud nya tujuan utama yang di inginkan sebuah penulisan planning menjadi hal yang harus di utamakan. Karena planning itu lah yang akan menjadi acuan para anggota organisasi dalam menjalankan tugas mereka, sehingga dengan adanya planning masing masing individu tau tugas apa yang harus mereka kerjakan. Kita ambil contoh dari orgnisasi tertinggi dalam lingkup perguruan tinggi yang sering kita sebut dengan BEM atau Badan Ekskekutif Mahasiswa. Saat terpilihnya para staff BEM langkah pertama yang mereka akan ambil adalah penulisan program kerja lalu penulisan anggaran yang di butuhkan untuk merealisasikan program kerja tersebut yang mana keseluruhan dari semua kegaiatan tadi terkumpul dalam sebuah pernyataan yang di sebut dengan planning.

2. ORGANIZING

Kebenaran yang tidak terorganisir akan kalah dengan kebatilan yang terorganisir. Sepatah kata yang di lontarkan oleh ulama Turki yang bernama Musthafa Shabri Afandi (w.1373H/1954M). Sebuah kata yang mungkin tidak asing di telinga sebagian dari kita. Dari pernyataan di atas kita dapat menyimpulkan betapa penting nya pembagian tugas dalam beroperasinya sebuh organisasi di suatu bidang. Selogan di atas tidak bertujuan untuk meredupkan eksistensi kebenaran dalam penyeruan masyrakat untuk berbuat baik. Tapi peristiwa yang terjadi di sekeliling kita memang tertuju pada perkataan beliau. Sebagai sebuah contoh kejadian yang pernah menggemparkan dunia yaitu ketika runtuh nya Menara kembar World Trade Center di New York City yang kronologi pengeboman dan dalang dari peristiwa ini masih menjadi misteri sampai saat ini. Misteri kebeneran yang tersembunyi dari peristiwa 19 september 2001 yang suskses menglabui fikiran manusia dalam menelusuri fakta yang ada, adalah hasil dari perencanaan yang baik dan pengorganisiran yang terstruktur. Menentukan perancangan struktur keorganisasian adalah hal wajib yang dilalukan oleh ketua organisasi, karena merupakan hal yang mustahil jika ketua organisasi melakukan semua pekerjaan organisasi hanya seorang diri, maka dari itu pembagian tugas ke tiap tiap staff organisasi sangat di perlukan untuk memudahkan terwujudnya tujuan utama yang di dambakan

3. ACTUATING

Actuating atau tahap pelaksanaan adalah tahap yang paling penting dalam beroperasinya sebuah organisasi. Tahap ini akan lebih mudah di jalankan jika telah adanya sebuah planning dan terorganisirnya struktur yang telah di bentuk, walaupun memang di tengah perjalanan pasti ada kendala tak terduga yang akan di hadapi oleh tiap tiap anggota organisasi. Dalam pereskpektif pendidikan yang berlaku kendala yang muncul secara tidak terduga dalam tubuh organisasi bukan untuk menghambat kinerja para anggota. Justru dari kendala itu lah yang akan menguji mental para anggota dan creative thinking mereka dalam menghadapi masalah yang ada, yang mana tujuan dari semua ini adalah meningkat kan kemampuan mereka dalam berfikir kritis agar tepat dan cepat menyelesaikan masalah.

4. CONTROLLING

Ketika telah berjalannya tahap pelakasaan yang telah kita bahas. Maka tugas dari Pemimpin yang mengepalai jalannya organisasi adalah mengontrol jalannya keorganiasian. Dalam sebuah organisasi kendala merupakan perkara wajib yang harus di hadapi. Dari munculnya masalah yang tak terduga inilah peran pemimpin dalam menyelesaikan masalah sangat di butuhkan. Karena walaupun dapat di bilang tugas pemimpin sendiri lebih sedikit dari para staff yang ada tapi tanggung jawab dari setiap anggota ada di pundak seorang pemimpin. Maka dari itu jabatan pemimpin biasanya di sandang oleh orang yang berfikiran kritis mampu mengambil keputusan yang cepat dan tepat dan konsekuen dalam mengambil tindakan serta berkomitmen dengan apa yang telah ia putuskan.

5. EVALUATING

Setalah keempat tahapan di atas telah terlaksana, maka tahap terakhir yang harus dilakukan organisasi adalah mencari evaluasi. Tujan dari evaluasi adalah mendata dan mengarsipkan kendala-kendala yang muncul dalam tubuh organisasi agar kendala yang muncul selama beroperasi tidak terulang di kemudian hari. Evaluasi diadakan minimal sekali sehari di ujung kegiatan organisasi atau ketika organisasi beroperasi pun tidak ada masalah untuk mengadakan evaluasi selama kegiatan organisasi tidak terhambat. Biasanya evaluasi di adakan oleh pemimpin tapi jika ada anggota yang ingin melakukan evaluasi, itu akan lebih baik untuk kelancaran organisasi. Karena seorang pemimpin tidak boleh hanya mengevaluasi tetapi ia harus berani dan terima di evaluasi bahkan di kritik sekali pun.

Itulah 5 tahapan berorganisasi yang terkumpul dalam kata P.O.A.C.E yang dapat di jadikan system keorganiasasian, jika system ini di terapkan dalam tubuh organiasi maka terwujudnya tujuan utama yang di dambakan akan lebih mudah tercapai.

Wildan Syuhada (Mahasiswa STIE Darunnajah Jakarta)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *