Mitos atau Fakta, Bulan Shafar adalah Bulan Kesialan


Penduduk Arab Jahiliyah memaknai bulan shafar sebagai “bulan kesialan” Kenapa? Dikarenakan pada zaman Arab Jahiliyah diyakini bulan Shafar tidak membawa keberuntungan sama sekali dan masyarakat melarang  melakukan aktifitas apa pun. Seperti bepergian, mengadakan pesta dan hiburan yang lainnya. Hal demikan bisa menyembabkan kesialan atau musibah.

Rasulullah SAW tidak membenarkan bahwa bulan Shafar itu bukan bulan kesialan. Beliau bersabda :
Abdullah bin Abbas radhiyallahu ‘anhuma berkata:

“Tidak ada penyakit menular, tidak ada thiyarah, tidak ada Hammah, dan tidak ada  pula merasa sial pada bulan safar.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Abdullah bin Abbas radhiyallahu ‘anhuma berkata:

بِأَمْرِ اللّه يَعْنِيْ: عَنْ قَدْرِهِ  وَمَشِيْئَتِهِ

Artinya: “Tidak ada sesuatu musibah pun yang menimpa seseorang kecuali dengan izin Allah” maksudnya adalah dengan perintah Allah yaitu dengan takdir dan kehendak-Nya.”

Seorang muslim meyakini bahwa semua makhluk sudah ditakdirkan Allah Ta’ala dan takdirnya dituliskan di Al Lauh Al Mahfuzh.

مَا أَصَابَ مِنْ مُصِيبَةٍ فِي الْأَرْضِ وَلَا فِي أَنْفُسِكُمْ إِلَّا فِي كِتَابٍ مِنْ قَبْلِ أَنْ نَبْرَأَهَا إِنَّ ذَلِكَ عَلَى اللَّهِ يَسِيرٌ

Artinya: “Tiada suatu bencanapun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauh mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah”. QS. Al Hadid: 22.

Allah SWT menciptakan 12 bulan hijriyah dalam 1 tahun. Semua bulan di dalamnya baik, tidak ada bulan yang tidak baik. Semua diciptakan sebagai kegiatan, aktivitas dan ibadah hamba-Nya. Itu semua  Kembali amalan manusialah yang dapat menyebabakan kesialan atau kebaikan. Supaya amalan kita membawa kebaikan maka kita harus merujuk kepada amalan sunah dan sebaliknya, kita mendapatakan kesialan kalo kita melakukan hal buruk juga. Semua itu tergantung amalan yang kita kerjakan.

Mindset dari masyarakat arab jahiliyah zaman dahulu menaggap bulan shafar membawa kesialan dan musibah. Hal itulah yang melarang mengadakan aktivitas hiburan masyarakat dalam bulan Shafar tersebut. Seadainya terkena musibah itu merupakan ujian dari Allah SWT supaya kalian menjadi orang  bertawakal. Allah berfirman :

قُلْ لَنْ يُصِيبَنَا إِلَّا مَا كَتَبَ اللَّهُ لَنَا هُوَ مَوْلَانَا ۚ وَعَلَى اللَّهِ فَلْيَتَوَكَّلِ الْمُؤْمِنُونَ

“Katakanlah: Sekali-kali tidak akan menimpa kami melainkan apa yang telah ditetapkan Allah untuk kami. Dialah Pelindung kami, dan hanya kepada Allah orang-orang yang beriman harus bertawakal”. (QS. At-Taubah: 51)

Shafar dalam Bahasa bermakna kosong, Jadi zaman dahulu masyarakat Arab Jahiliyah berpergian meninggalkan tempat untuk berperang dan ada yang menanggap  bulan Shafar sebagai penyakit di dalam perut. Sejenis ulat besar berbahaya yang bersarang di peru dan ada yang menyakini Shafar adalah sejenis hawa angin panas. Adapula di zaman kehidupan Arab jahiliyah, masyarakat menggunakan bulan safar untuk meramal. Nabi Muhammad SAW melarang akan perbuatan meramal dan masyarakat menganggap bulan shafar membawa kesialan adalah salah satu jenis tahayyul yang terlarang.

Kami ambil kesimpulan bahwa Bulan Shafar atau “Bulan Kesialan” itu adalah Mitos semata. Karena perbuatan Tahayyul dan kebiasaan masyarakat arab jahiliyahlah yang dapat menyebabkan datangnya kesialan dan musibah baginya. Sesungguhnya semua taqdir manusia itu sudah ditentukan oleh Allah SWT di Lauhfil Maghfudz dan Perbuatan yang kita lakukan masing-masing. Terimakasih

_Mukholladun_

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *