.elementor-kit-2474 p { margin-bottom: 15px; }

Larangan Riba

Bagikan

Share on facebook
Share on whatsapp
Share on telegram

STIE Darunnajah – Dalam kehidupan perekonomian, salah satu tujuan utamanya untuk memenuhi keberlangsungan hidup manusia. Dengan begitu, seseorang bekerja demi mendapatkan uang agar dapat terpenuhi kepuasan dan kesejahteraannya. Namun dalam pelaksanaannya tentu bukanlah hal mudah, tidak sedikit seseorang yang menghalalkan segala cara demi mendapatkan untung, salah satunya dengan memakan hasil perolehan riba.

Dalam hadits, Nabi ﷺ memerintahkan agar seorang muslim menjauhi riba. Dan riba itu sendiri termasuk salah satu dari tujuh dosa besar. Nabi SAW bersabda:

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ اجْتَنِبُوا السَّبْعَ الْمُوبِقَاتِ ‏”‏‏.‏ قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ، وَمَا هُنَّ قَالَ ‏”‏ الشِّرْكُ بِاللَّهِ وَالسِّحْرُ، وَقَتْلُ النَّفْسِ الَّتِي حَرَّمَ اللَّهُ إِلاَّ بِالْحَقِّ، وَأَكْلُ الرِّبَا، وَأَكْلُ مَالِ الْيَتِيمِ، وَالتَّوَلِّي يَوْمَ الزَّحْفِ، وَقَذْفُ الْمُحْصَنَاتِ الْمُؤْمِنَاتِ الْغَافِلاَتِ ‏”‏‏

“Dari Abu Hurairah, dari Nabi ﷺ bersabda, Jauhi tujuh hal yang membinasakan! Para sahabat berkata, “Wahai, Rasulullah! apakah itu? Beliau bersabda, “Syirik kepada Allah, sihir, membunuh jiwa yang diharamkan Allah tanpa haq, memakan harta riba, memakan harta anak yatim, lari dari medan perang dan menuduh wanita beriman yang Ialai berzina” (Muttafaq ‘alaih). (HR Bukhari Muslim)

Rasulullah SAW mengingatkan bahwasannya terdapat 7 pebuatan yang dijelaskan jika seseorang melakukannya maka akan membinasakannya. Dikatakan membinasakan karena dari dosa tersebut bukan hanya merusak keimanan satu pihak saja melainkan ada hak-hak muslim lain yang dirusak oleh si pendosa. Salah satunya yakni, memakan harta Riba.

Riba secara bahasa (etimologi), dalam bahasa Arab bermakna kelebihan atau tambahan (az-ziyadah). Secara Syara’ adalah penambahan pada Rasul Maal (harta pokok) sedikit atau banyak.

Dari beberapa makna, dapat disimpulkan bahwa Riba merupakan penetapan bunga atau melebihkan jumlah pinjaman saat proses pengembalian sesuai dengan presentasi tertentu dari jumlah pinjaman utama yang dibebankan kepada peminjam. Penambahan jumlah ini konteksnya umum, yaitu semua tambahan terhadap pokok utang dan harta.

Lalu, apa perbedaan antara tambahan keuntungan dari proses jual beli?

Tentu berbeda karena dalam proses penjualan dikenal dengan istilah ribbun (laba) yang didapatkan dari muamalah jual beli yang hukumnya halal, sedangkan riba adalah hasil dari tambahan pada kegiatan utang piutang (kredit) yang waktu pelunasannya tidak tentu dan sudah disyaratkan sebelumnya oleh salah satu pihak.

Untuk seseorang yang tidak memiliki pengetahuan syariat tentang riba, mereka berfikir jika mereka tidak merasa dirugikan dan akan dengan mudah mendapatkan keuntungan yang lebih besar dengan cepat tanpa harus bersusah payah. Sehingga para ulama sepakat bahwa riba adalah haram, serta Islam tidak memperkenankan hal tersebut dipraktikkan dalam muamalah karena ini merupakan usaha mencari rezeki yang tidak dibenarkan serta dibenci Allah Subhanahu wata’ala.

Disebutkan juga dalam Firman Allah surah Al-Baqarah ayat 275, yang artinya “Allah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba”. …

Sesuai dengan yang diriwayatkan pula dari Baraa’ bin ‘Azib RA bersabda

الرِّبا اثنان وسبعون بابًا أدناها مثلُ إتيانِ الرَّجلِ أمَّه

“Dosa riba terdiri dari 72 pintu. Dosa riba yang paling ringan adalah bagaikan seorang Iaki-Iaki yang menzinai ibu kandungnya.” (HR Thabrani).

Dalam surah Al-Baqarah, Allah berfirman, “Hai orang orang yang beriman bertakwalah pada Allah dan tinggalkan sisa riba jika kamu orang-orang yang beriman,” (QS Al Baqarah: 278)

Cukup banyak firman Allah beserta hadist sunnahnya yang membahas perihal Riba. Dan dengan begitu, Allah telah sangat menekankan jika Riba adalah perbuatan yang sangat amatlah diharamkan.

Kontributor : Husnul Hayati/Mahasiswi Administrasi Bisnis

Baca Juga