Konsep Produksi dalam Prespektif Islam

Islam merupakan agama yang sempurna karena islam tidak hanya sebagai agama yang mengatur hubungan dengan Allah SWT tetapi juga mengatur hubungannya dengan manusia dan makhluk lainnya. Kesempurnaan yang terlihat dalam hubungan dengan manusia yaitu dalam segala bidang baik bidang politik, sosial, budaya, pendidikan, dan sebagainya termasuk dalam bidang ekonomi. Sehingga dalam bidang ekonomi, Islam juga mempunyai seperangkat aturan dan konsep tentang kegiatan ekonomi yang terdiri dari produksi, distribusi dan konsumsi yang harus dipahami dan dilaksanakan oleh manusia muslim dalam rangka ketaatannya kepada Allah SWT.

Islam memandang bahwa kegiatan produksi merupakan suatu kegiatan untuk mencari karunia Allah SWT yang terkandung dalam setiap ciptaan-Nya, karena kegiatan produksi adalah kegiatan untuk mengolah apa yang telah disediakan oleh Allah SWT dalam alam semesta menjadi berguna untuk memenuhi kebutuhan manusia dalam rangka beribadah kepada Allah SWT agar kelangsungan dan kemakmuran hidup di dunia dan di akhirat tercapai. Kegiatan distribusi sangat diperlukan dengan tujuan agar barang dan jasa yang telah dibuat oleh produsen dapat sampai kepada konsumen, kegiatan ini dalam Islam dikenal dengan kegiatan perdagangan yang pelaksanaannya harus sesuai dengan aturan Islam. Dengan kejujuran dan aspek spiritual yang senantiasa melekat pada perdagangan akan mendatangkan keuntungan kepada semua pihak yang terlibat.

Dalam literatur ekonomi Islam padangan produksi adalah “intaj ” (ان تج ) dari akar kata “nataja” (. )ن تج Menurut Ahmad Muhammad al – Assal dan Fathi Ahmad Abdul Karim (Muhammad, 2004 : 220) bahwa Islam menggambarkan peranan manusia dalam alam semesta ini atas dasar tiga masalah pokok, yaitu:

  1. Allah SWT menciptakan seluruh alam semesta sesuai dengan peraturan dan hukum-Nya.
  2. Allah SWT memerintahkan tunduk kepada umat manusia dari seluruh alam semesta ini, apa saja yang ia butuhkan dalam usahanya untuk hidup dan kelangsungan kehidupannya.
  3. Bekerja dan berusaha merupakan fitrah dan watak manusia dalam memakmurkan planet ini, mengeksploitasi sumber-sumber kemakmurannya, dan mengharapkan anugerah Allah SWT yang tersimpan dalam planet ini.

Manusia dan alam semesta diciptakan oleh Allah SWT untuk tunduk dan taat kepada semua peraturan yang telah ditetapkan-Nya, apabila semua ciptaan-Nya tersebut keluar dari tata aturan tersebut maka pasti akan menimbulkan kemudharatan bagi manusia dan alam semesta itu sendiri, hal tersebut terjadi karena Allah SWT adalah Maha mengetahui apa yang terbaik bagi makhluk ciptaan-Nya.

Kegiatan produksi dalam pandangan ekonomi islam merupakan salah suatu kegiatan untuk mencari karunia Allah SWT yang terkandung dalam setiap ciptaan-Nya, karena kegiatan produksi adalah kegiatan untuk mengolah apa yang telah disediakan oleh Allah SWT dalam alam semesta menjadi berguna untuk memenuhi kebutuhan manusia dalam rangka beribadah kepada Allah SWT agar kelangsungan dan kemakmuran hidup di dunia dan di akhirat tercapai.

Prilaku produksi dalam ekonomi islam berbeda dengan ekonomi konvensional dimana, semua kegiatan produksi yang dilakukan oleh produsen muslim adalah untuk menghasilkan barang dan jasa yang halal dalam pandangan islam karena orientasi produsen untuk berproduksi adalah mencapai Ridha Allah SWT. Sangat diharamkan memproduksi segala sesuatu yang merusak akidah yang shahih dan akhlak yang utama dan segala sesuatu yang melucuti identitas ummat, menggoncangkan nilai-nilai agama dan akhlak, menyibukkan pada hala-hal yang sia-sia dan menjauhkannya dari keseriusan, mendekatkan kepada kebathilan, dan menjaukan dari kebenaran, mendekatkan dunia dan menjauhkan akhirat. Produsen yang seperti ini tidak pernah memikirkan kehalalan dan keharaman tetapi hanya memikirkan kekayaan, uang dan  pendapatan semata (Muhammad, 2004 : 231).

Syekh Muhammad Yusuf Qardhawi. 1993. Halal dan Haram dalam
Islam, Bab IV point 4.2, bagian Muamalah Alih bahasa: H. Mu’ammal Hamidy, Penerbit: PT. Bina Ilmu.

Muhammad Abdul Mannan. 1997. Teori dan Praktek Ekonomi Islam. Dana Bakti Wakaf. Yogyakarta.Muhammad. 2004. Ekonomi Mikro Dalam Perspektif Islam. Edisi I. BPFE. Yogyakarta

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *