Konsep Konsumsi dalam Islam

Menurut Tokoh Ekonom Mannan, konsumsi adalah permintaan sedangkan produksi adalah penyediaan. Kebutuhan konsumen, yang kini dan yang telah diperhitungkan sebelumnya, merupakan insentif pokok bagi kegiatan-kegiatan ekonominya sendiri. Mereka mungkin tidak hanya menyerap pendapatannya tetapi juga memberi insentif untuk meningkatkannya. Hal ini mengandung arti bahwa pembicaraan mengenai konsumsi adalah primer, dan hanya bila para ahli ekonomi mempertunjukkan kemampuannya untuk memahami, dan menjelaskan prinsip produksi maupun konsumsi sajalah, mereka dapat dianggap kompeten untuk mengembangkan hukum-hukum nilai dan distribusi atau hampir setiap cabang lain dari subyek tersebut.

Teori konsumsi dalam Islam adalah menggunakan sesuatu kegiatan ekonomi secara tidak berlebihan yang tidak pula keterlaluan (secukupnya, alakadarnya) (Q.S: 7: 31) Berbeda dengan Teori ekonomi modern “Konsumsi adalah perilaku masyakarat modern dengan tujuan akhir konsumsi” (Gilarso: 1993: 77).

Ayat dan Hadit terkait Konsumsi

كُلُوْا وَشْرَبُوْا وَلَا تُسْرِفُوْا اِنَّهُ لَايُحِبُّ المُسْرِفِيْنَ

…dan makan dan minumlah, dan janganlah berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan. (Al-A’raf : 31)

فَقَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : مَنْ كَانَ مَعَهُ فَضْلُ مِنَ زَالَ فَلْيُعِدْ بِهِ عَلَى مَنْ لَا ظَهَرَ لَهُ

Dan siapa yang mempunyai kelebihan bekal harus dibantukan pada orang yang tidak berbekal (HR. Muslim)

Tujuan Konsumsi dalam Islam

Menurut Islam, tujuan konsumsi adalah memperoleh maslahat terbesar, sehingga ia dapat mencapai kemenangan di dunia dan akhirat

وَابْتَغِ فِيْماَاَتكَ اللّهَ الدَّارَ الأَخِرَةَ وَلاَتَنْسَ نَصِيْبَكَ مِنَ الدُّنْيَا وَاَحْسِنْ كَمَا اَحْسَنَ اللّهُ اِلَيْكَ

Dengan demikian seorang muslim akan mencapai tingkat konsumsi yang baik atau mencapai kepuasan maksimal dalam konsumsi, apabila konsumsi yang dilakukan sesuai dengan ajaran agama

Prinsip dasar konsumsi islam konsumsi di mana terdiri dari:
a. Prinsip akidah, yaitu hakikat konsusmsi adalah sebagai sarana untuk ketaatan/beribadah sebagai perwujudan keya.kinan man.usia sebagai makhluk yang mendapatican beban khalifah dan amanah di bumi yang nantinya diminta pertanggungjawaban oteh penciptanya.
b. Prinsip ilmu, yaitu. seorang ketika akan mengkonsumsi hams tabu ilmu tentang barang yang akan dikonsumsi dan hukam-hokum yang berkaitan dengannya apakah merupakan sesuatu yang halal atau haram balk ditinjau dari zat, proses, maupun tujuannya.
c. Prinsip amaliah, sebagai konsekuensi akidah dan ilmu yang telah diketahui tentang konsumsi islami tersebut. Seseorang ketika sudah berakidah yang lurus dan berilmu, maka dia akan mengkonsumsi hanya yang halal serta menjauhi yang halal atau syubhat.

Menurut Mannan, perintah Islam mengenai konsumsi dikendalikan oleh 5 prinsip, yaitu:

  1. Prinsip keadilan,
  2. Prinsip kebersihan,
  3. Prinsip Kesederhanaan,
  4. Prinsip kemurahan hati,
  5. Prinsip moralitas.

Ada lima prinsip dalam produksi dan konsumsi, yaitu

(1) Unity (keesaan Tuhan/Tauhid), integritas vertikal, interaksi sistem sosial yang bermuara kepada keesaan Tuhan.

(2) Equilibrium, keseimbangan (keadilan).

(3) Free will atau bebas berkehendak (ikhtiar).

(4) Responsibility (pertanggunganjawab) terhadap lingkungan sosial, politik, ekonomi, budaya, fisik, pemerintah, stake holders (pihak-pihak terkait), manusia dan lain-lain

(5) Kebenaran: Kebijakan dan kejujuran.

Konsumsi dalam Islam sangat erat kaitannya dengan kesejahteraan di dunia dan keselamatan di akhirat. Hal ini menjadi sangat penting karna selain secara pribadi kita tidak mampu melepaskan diri darinya, kita juga dituntut memahami bagaimana seharusnya praktik Konsumsi itu dijalankan. ⁣⁣⁣Kesejahteraan seseorang pun nyaris diukur berdasarkan bermacam-macamnya sifat kebutuhan yang diusahakannya untuk dapat terpenuhi dengan upaya khusus. Pandangan terhadap kehidupan dan kemajuan ini sangat berbeda dengan konsepsi nilai Islami. Etika ilmu ekonomi Islam berusaha untuk mengurangi kebutuhan material manusia yang luar biasa sekarang ini, untuk menghasilkan enerji manusia dalam mengejar cita-cita spiritualnya.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *