.elementor-kit-2474 p { margin-bottom: 15px; }

Jalan Pikiran yang Terbaik

Bagikan

Share on facebook
Share on whatsapp
Share on telegram

STIE Darunnajah – Saat ini, dalam kehidupan kita banyak dijumpai masalah sosial diantara masyarakat. Baik itu isu di dalam satu rumah tangga, satu kampung, satu daerah, bahkan satu negara. Tetapi masyarakat kita tidak mampu untuk mencerna dari apa yang sebenarnya terjadi pada masyarakat.

Sehingga yang muncul didalam putaran masalah tersebut adalah sentimen yang tidak terkendali, sehingga pikiran gagal untuk menghalangi fallacies atau kekeliruan masuk kedalam pikiran masyarakat.

Contoh dari kekeliruan dalam berpikir seperti, Terkadang saya sendiri dianggap sebagai orang yang tidak pancasilais, dengan asumsi bahwa tidak pancasilais artinya tidak menjadi warga negara yang baik dan benar. Padahal, kalau seandainya pun saya tidak pancasilais, bukan berarti saya anti terhadap Pancasila. Dan kalau seandainya saya tidak pancasilais, siapa yang dapat menghalangi saya?, tentunya dia adalah orang yang paling pancasilais, dan orang itu tidak kita temukan di Indonesia. Karena, kalau orang itu benar-benar menerapkan Pancasila di dalam hidupnya, dia pasti tidak membuang sampah sembarangan, tidak menggusur tanah orang, karena itu merampas hak-hak sipil.

Contoh lainnya seperti, asumsi masyarakat yang jika ada pidato, orasi, ceramah, atau apapun itu jikalau yang berbicara adalah presiden, pemuka agama, professor, rektor, dosen, maka mereka benar!. Asumsi itu tumbuh secara tidak langsung didalam masyarakat saat ini. Seharusnya, untuk menilai hal tersebut bukan dengan melihat siapa dia. Sebagian masyarakat sudah menjadikan status publik seseorang untuk melihat benar salahnya ucapannya. Untuk berpikir jernih, maka kita harus membatalkan dalil tersebut untuk dijadikan argumen dalam melihat benar salahnya seseorang. Untuk melihat benar salahnya seseorang itu dapat dilihat dari jalan pikirannya, masuk akal atau tidak?, bukan dari status sosialnya.

Jika kita Menelaah lagi, kenapa asumsi itu bisa tumbuh didalam masyarakat. Karena, kurangnya pendidikan untuk bernalar dengan baik. Pendidikan kita seolah-olah ingin menyingkirkan ketajaman argumentasi. Sehingga, jejak-jejak feodalisme masih terasa hingga saat ini. Di dalam kelas, Ketika dosen masuk kedalam ruang kelas, semua mahasiswa nunduk hormat karena dia adalah professor.

Ini merupakan kerancuan. Karena, seseorang itu bisa mendapatkan kehormatan yang sebenarnya karena ia mempunyai jalan pikiran yang baik, bukan karena ia rektor, professor, atau apapun itu. Jelas sekali  bahwa hormatilah orang yang berilmu, bukan yang bergelar. Gelar itu bisa dibeli, tetapi tidak dengan ilmu. Gelar itu hanya tanda jasa, pernah sekolah, atau pernah masuk kelas. Kalua orang berilmu dia akan berjasa, dan langkahnya di masyarakat akan berkelas. Jejak feodalisme ini yang harus dimusnahkan dari bumi Indonesia, terutama di dalam pendidikan.

Maka dari itu, perlu adanya perbaikan-perbaikan yang wajib dibangun dengan dasar logika dan nalar yang baik. Ingat, ketika dulu H. Agus Salim berbicara di dalam sebuah forum, di seberang sana lawan politiknya mengeejek ia “mbee.. mbee..” karena janggutnya yang mirip seperti kambing. Lalu, apakah H. Agus Salim marah?, tidak sama sekali, ia berkata dihadapan hadirin Ketika itu “setahu saya disini merupakan forum manusia, kenapa dibelakang sana ada kambing?”. Beliau menggunakan kecerdasan intelektualnya untuk membungkam lawan politiknya. Dan saya tidak sabar untuk menanti Indonesia dihuni oleh pemuda-pemuda yang intelek, mampu bernalar, mampu memahami global, dan mampu bersaing di dunia internasional. Bagaimana caranya? Perbaiki sistem pendidikan, jangan merampas hak-hak demokrasi, dan tajamkan argumen, kendalikan sentimen. Wallahu ‘alam

Kontributor : Teuku Bima Syah Alam Raja Muda, Mahasiswa Administrasi Bisnis.

Baca Juga