.elementor-kit-2474 p { margin-bottom: 15px; }

Hadis tentang Produksi , Distribusi dan Konsumsi

Bagikan

Share on facebook
Share on whatsapp
Share on telegram

STIE Darunnajah – Kegiatan produksi, distribusi dan konsumsi merupakan kegiatan ekonomi yang dilakukan oleh masyarakat dalam memenuhi kebutuhannya sehari – hari. hal ini dapat menimbulkan nilai saling menolong satu sama lain dalam perekonomian. akan tetapi, tahukah kamu? bahwa jauh sebelum kita mengenal istilah produksi, distribusi dan konsumsi, Nabi Muhammad SAW telah menjelaskan perihal produksi, distribusi dan konsumsi ini dalam hadis nya yang diriwayatkan oleh Bukhori, Yuk pelajari hadis ekonomi dibawah ini !!!

حَدَّثَنَا عُبَيْدُ اللَّهِ بْنُ مُوسَى أَخْبَرَنَا الْأَوْزَاعِيُّ عَنْ عَطَاءٍ عَنْ جَابِرٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ كَانُوا يَزْرَعُونَهَا بِالثُّلُثِ وَالرُّبُعِ وَالنِّصْفِ فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ كَانَتْ لَهُ أَرْضٌ فَلْيَزْرَعْهَا أَوْ لِيَمْنَحْهَا فَإِنْ لَمْ يَفْعَلْ فَلْيُمْسِكْ أَرْضَهُ (رواه البخاري)

Artinya: Telah menceritakan kepada kami ‘Ubaidullah bin Musa telah mengabarkan kepada kami Al Awza’iy dari ‘Atha’ dari Jabir radliallahu ‘anhu berkata: “Dahulu orang-orang mempraktekkan pemanfaatan tanah ladang dengan upah sepertiga, seperempat atau setengah”, maka Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Siapa yang memiliki tanah ladang hendaklah dia garap untuk bercocok tanam atau dia hibahkan. Jika dia tidak lakukan maka hendaklah dia biarkan tanahnya”. (HR. Bukhari no. 2172)

Penjelasan Hadits:

لِيَمْنَحْهَا (hendaklah dia memberikan secara gratis). Maksudnya, diberikan untuk diambil manfaatnya secara gratis. Imam Muslim meriwayatkan melalui jalur Mathar al-Warraq dari Atha’, dari Jabir dengan lafadz أَنَّ النَّبِيّ صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَهَى عَنْ كِرَاء الْأَرْض (Sesungguhnya Nabi SAW melarang menyewakan tanah). Pada jalur dari Mathar disebutkan, مَنْ كَانَتْ لَهُ أَرْض فَلْيَزْرَعْهَا فَإِنْ عَجَزَ عَنْهَا فَلْيَمْنَحْهَا أَخَاهُ الْمُسْلِم وَلَا يُؤَاجِرهَا (Barang siapa memiliki lahan, maka hendaklah menanaminya. Apabila tidak mampu, maka hendaklah memberikannya kepada saudaranya sesama muslim, dan janganlah dia menyewakannya). riwayat al-Auza’i yang disebutkan Imam Bukhari menjelaskan maksud larangan ini, karena dalam riwayat itu disebutkan sebab larangan tersebut.

فَإِنْ لَمْ يَفْعَلْ فَلْيُمْسِكْ أَرْضَهُ (apabila tidak melakukannya, maka hendaklah dia menahan tanahnya). Yakni, jika tidak mau mengelolanya dan tidak mau memberikan kepada orang lain untuk dikelola secara gratis, maka hendaklah menahan dan tidak menyewakannya.

Dalam hal ini timbul kemusykilan bahwa menahan tanah tanpa dikelola berarti menyia-nyiakan manfaat tanah itu. Dalam hal ini termasuk menyia-nyiakan harta, sedangkan sikap seperti ini dilarang.

Kemusykilan ini dijawab dengan memahami bahwa yang dilarang adalah menyia-nyiakan harta itu sendiri. Sebab, jika tanah itu ditinggalkan tanpa dikelola, maka manfaatnya tidak terputus. Bahkan, akan tumbuh rerumputan dan kayu-kayu sehingga dapat dimanfaatkan sebagai tempat penggembalaan dan lain sebagainya. Membiarkan lahan tidak digarap tetap dapat menyuburkan lahan tersebut. Mungkin saja hasil yang diperoleh pada tahun ini dapat menutupi hasil ketika tanah itu dibiarkan tanpa digarap.

Kontributor: Haditia Putri Utami, Mahasiswi Administrasi Bisnis

Baca Juga