3 Tahapan Penerapan Hukum Pada Marketplace

Perkembangan zaman telah memunculkan berbagai inovasi, teknologi dan digitalisasi. Perubahan-perubahan tersebut tentunya berhubungan erat dengan aktivitas ekonomi dan sosial masyarkat, oleh karena itu penting memahami penerapan hukum pada market place.

Transaksi Marketplace

Tashawur

Tahap pertama dalam menentukan hukum adalah tashawur, yaitu mengenali skema marketplace. Ada beberapa catatan untuk marketplace:

(1) Marketplace tidak memiliki barang, sehingga pihak marketplace tidak menjual.

(2) Marketplace adalah wadah yang mempertemukan banyak penjual (merchant) dengan masyarakat konsumen.

(3) Marketplace tidak hanya tempat untuk berjualan, tapi lembaga yang memiliki wewenang mengatur kondisi pasarnya.

(4) Umumnya pihak marketplace memberi jaminan keamanan bagi pengunjung dengan system escrow, dimana uang yang ditransfer konsumen disimpan oleh marketplace di rekber (rekening bersama), dan baru diserahkan ke penjual setelah barang tiba dengan selamat di tempat konsumen.

(5) Konsumen yang beli tidak pernah bertemu dengan pembeli barang. Semua transaksi dilayani dengan mesin.

(6) Dana yang mengendap di rekber, diatur oleh kebijakan terkait.

Adapun catatan untuk pihak marketplace:

(1) Tidak berwenang menetapkan harga terhadap barang yang dijual.

(2) Tidak mendapat keuntungan atau profit sharing dari merchant ketika ada barang yang terjual.

(3) Tidak menanggung resiko terhadap barang.

(4) Terkadang menyewakan fitur iklan untuk beberapa merchant, seperti diiklankan atau dipajang di depan.

Pendekatan Fiqh

Tahapan kedua dalam memahami kasus marketplace adalah pendekatan fiqh untuk melihat akad dalam marketplace :

(1) Akad yang terjadi pada marketplace adalah akad jual beli. Diantara konsekuensi jual beli adalah terjadinya perpindahan kepemilikan. Baik perpindahan kepemilikan barang dari penjual ke pembeli atau kepemilikan uang, dari pembeli ke penjual.Perpindahan kepemilikan terjadi sejak akad jual beli dilakukan, meskipun barang belum diserahkan dan uang belum dibayarkan.

(2) Keberadaan escrow termasuk bagian dari ciri khas marketplace, untuk menjamin keamanan bagi semua pihak.

(3) Untuk status kepemilikan uang di rekening bersama, perlu diketahui, bahwa uang yang ditransfer konsumen ke rekening bersama adalah sebagai pembayaran untuk barang yang dibeli, dan bukan memberi hutang ke pihak marketplace.

(3) Akad yang dilakuakan di marketplace akan sah ketika konsumen telah mentrasfer uang ke rekening bersama, karena sudah menjadi aturan dalam transaksi online, bahwa konsumen dinyatakan telah setuju melakukan transaksi jika telah melakukan pembayaran dengan cara transfer atau metode pembayaran lainnya.

Penentuan Hukum

Tahapan yang ketiga adalah menentukan pendekatan fiqh, dimana dari tahapan kedua sudah sangat jelas bahwa akad yang terjadi pada marketplace adalah akad jual beli. Maka tahapan terakhir dalam penarikan kesimpulan  bahwa marketplace bukan penjual, bukan pula wakil dari penjual, marketplace hanya media yang mempertemukan antara penjual dan pembeli dengan aturan tertentu.

Adapun terkait aturan di marketplace, pada prinsipnya selama aturan iitu tidak melanggar syariat, hukum asalnya dibolehkan dan aturan itu mengikat kedua belah pihak, sehingga wajib dilaksanakan. Karena setiap muslim wajib mengikuti kesepakatan Bersama yang mereka tetapkan. Sesuai dengan hadis nabi dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu. Nabi SAW bersabda, “ Kaum muslimin harus memenuhi setiap syarat (perjanjian) diantara mereka “ (Abu Daud 3596). Wallahu A’lam. Helda Amalia & Dilla Aulia

Keywords: Peradaban Islam, Ekonomi Islam, Marketplace

Daftar Pustaka

BI, Bank Indonesia. Statistik Sistem Pembayaran. Transaksi Uang Elektronik (diunduh 2021 Agustus 8). Tersedia pada: http://www.big.go.id.

BI. Bank Indonesia. Survey Konsumen. (diunduh 2021 Agutus 8) Tersedia pada: http://www.big.go.id.

Hidayat, M. 2010. Pengantar Ekonomi Syariah. Jakarta: Zikrul Hakim.

KOMINFO, Kementrian Komunikasi dan Informatika. 2016. Study Ekonomi Digital di Indonesia. Badan Penelitian dan Pengembangan SDM KOMINFO. 5.

Mulyadi, M. 2011. Penelitian kualitatif dan kuantitatif serta Pemikiran Dasar. Jurnal Komunkasi dan Media Massa. 15(1). 131.

Nugroho, A. 2021. Pengertian Era Digital dan Dampaknya Untuk Kehidupan. Qwords.com . (diunduh 2021 Agutus 8). Tersedia pada:  https://qwords.com/blog/era-digital-adalah/

Nur Baits, A. 2020. Halal Haram Bisnis Online. Jogja: Pustaka Muamalah Publishing.

Suprayitno, Eko. 2005. Ekonomi Islam Pendekatan Ekonomi Makro Islam dan Konvensional. Yogyakarta: Graha Ilmu.

Zed, M. 2008. Metode penelitian kepustakaan, Jakarta: Yayasan Obor Indonesia.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *