Muslim Behavior on Wealth and Poverty

            Perkembangan zaman yang terus maju tidak serta merta  memberikan banyak perubahan baik terhadap perjalanan perekonomian, khususnya di negara kita Indonesia pasca pandemic covid-19 yang masih berlanjut sampai  saat ini. Sebagaimana data dari Badan Pusat Statistik (BPS) bahwa terjadi kenaikan jumlah penduduk miskin di tanah air per September 2020 sebesar 27,55 juta jiwa, dimana jumlah ini setara dengan 10,91% dari total populasi (BPS 2020).

            Terlepas dari dampak covid-19 terhadap kenaikan penduduk miskin di Indonesia, kesenjangan perekonomian di tanah air sudah menjadi fenomena umum dan sangat memperhatikan. Salah satu faktor penyebab terjadinya hal tersebut adalah adanya ketidakseimbangan dalam distribusi pendapatan dan kekayaan, terlebih ketidakseimbangan distribusi pendapatan merupakan salah satu sumber konflik individu maupun sosial. Sehingga hal ini menggambarkan bahwa terus berkembangnya zaman bisa mempengaruhi perubahan sikap manusia terhadap harta ataupun kekayaan.

            Berdasarkan teori perilaku konsumsi yang telah berkembang, bahwa dengan pendapatan yang terbatas seorang konsumen dapat memaksimalkan kepuasan (utility). Teori ini sangat bertolak belakang dengan sifat manusia yang tidak terbatas kepuasannya. Hal ini mengakibatkan kebanyakan dari para konsumen membelanjakan harta mereka diluar dari kebutuhan mereka atau hal-hal yang tidak bermanfaat, hanya sekedar untuk menyombongkan diri dan menjaga prestige. Fenomena ini tidak sesuai dengan batasan-batasan yang telah ditetapkan oleh syariat Islam (Wahid 2010).

            Islam memiliki pandangan berbeda terhadap harta dan kekayaan, sebagaimana yang diajarkan oleh Rasulullah SAW, bahwa dalam menyikapi harta hendaknya kita berorientasi pada kebaikan dan manfaat yang optimal. Harta dan kekayaan bukan untuk dinikmati diri sendiri melainkan untuk kebahagiaan bersama saudara-saudara yang lain. Rasulullah SAW menegaskan bahwa manusia hanyalah pemegang amanah (agent of trust) sedangkan pemilik harta yang mutlak adalah Allah SWT. Ini memperkuat bahwa pada dasarnya harta dan kekayaan memiliki manfaat yang baik, mulia dan indah, sehingga janganlah kita membenci harta hanya karena alasan zuhud dengan arti yang tidak tepat atau qana’ah yang salah kaprah (Antonio 2010).

            Rasulullah SAW juga mengingatkan bahwa salah satu faktor yang dapat membahayakan keimanan dan aqidah seseorang adalah kemiskinan, sehingga janganlah membiarkan kemiskinan terus mewabah. Jika mayoritas muslim berada di bawah garis kemiskinan, ini bisa menyebabkan progres dakwah  serta pembangunan infrastruktur pendidikan Islam akan terhambat. Masjid akan kumuh dan kotor karena tidak memiliki biaya perawatan serta banyaknya yatim piatu yang terlantar serta terus merajalelanya buta huruf Al-Quran karena tidak adanya donasi serta biaya untuk membayar gaji guru.

            Oleh karenanya kekayaan adalah suatu kebaikan jika digunakan untuk hal-hal yang bermanfaat, sehingga ketika mendapatkannya seorang muslim tidak akan dilalaikan melainkan sebagai sarana untuk bekal ibadah kepada Allah. Akhirnya, Rasullullah SAW juga menegaskan agar kita selalu bersyukur kepada Allah. Seorang muslim tidak boleh kenyang sendiri atas kekayaan yang telah Allah berikan sementara saudara sesama lainnya yang dhuafa dan miskin menderita kelaparan, kekurangan dan kemiskinan.

Harta, Kekayaan adalah Sarana Ibadah dan Meraih Keberhasilan Ekonomi

            Pada surat At-Takatsur (102), Allah menganjurkan agar mencari kekayaan sebanyak-banyaknya, tetapi dengan proses yang tidak melupakan kematian. Harta jangan sampai melalaikan dzikrullah (Q.S. Al-Munafiqun : 9), dan tidak pula memusatkan kekayaan hanya pada sekelompok orang (Q.S. Al-Hasyr :7). Maka janganlah terkecoh oleh harta dan kekayaan dan janganlah lalai terhadap perintah Allah, karena saat harta dijadikan landasan dan symbol keusksesan, maka yang terjadi adalah upaya menghalalkan segala cara untuk memperoleh dan menumpuk harta. Pada saat yang sama, penggunaan harta cenderung berorientasi untuk bisa memenuhi segala nafsu dan ambisi.

            Rasulullah SAW, melalui tuntunan Al-Qurandan teladan Sunnah Nabawiyyah, senantiasa menegaskan agar kita memiliki keyakinan yang tinggi dalam meraih keberhasilan ekonomi. Minimal ada lima landasan Qur’ani yang dapat meneguhkan keyakinan ini (Antonio 2010).

  1. Allah telah menyediakan rezeki bagi setiap hambanya (Q.S. Hud :6). Dengan landasan ini, kita harus lebih bersemangat untuk mengusahakan agar rezeki dapat diperoleh.
  2. Mencari rezeki atau berusaha adalah perintah Allah yang harus dikerjakan (Q.S. Al-Jumu’ah : 10). Dengan dasar keyakinan ini, hendaknya kita menjadikan ikhtiar sebagai bagian dari beribadah kepadaNya.
  3. Memaksimalkan potensi dan kemampuan diri demi meraih hasil yang lebih baik (Q.S. An-Najm : 39).
  4. Semangat dalam berusaha, optimis dan pantang menyerah (Q.S. Ali ‘Imran :139), (Q.S Fussilat : 30), (Q.S. Yunus : 107).
  5. Betawakal kepada Allah dalam mencari penghasilan (Q.S. Ali ‘Imran : 173-174), (Q.S. Fatir :2), (Q.S. Al-Ma’idah :23), (Q.S At-Talaq :3).

Dengan landasan-landasan diatas, menegaskan dan meneguhkan keyakinan terhadap arahan Allah dan RasulNya agar kaum muslim berusaha mencari ekonomi yang lebih baik. Maka landasan-landasan diatas juga memberikan justifikasi bahwa kegiatan perekonomian adalah suatu keharusan yang harus dijalani oleh setiap muslim. Bahkan Islam mewajibkan umatnya untuk bekerja mencari nafkah bagi dirinya, istrinya dan segenap keluarganya. Islam melarang umatnya untuk hidup dalam penanggungan orang lain dan meminta-minta, sesuai hadist riwayat Bukhari, Rasullullah Saw bersabda: “ Di antara kalian memikul kayu bakar pada pundaknya itu lebih baik dari pada meminta-minta kepada orang lain, kemudian diberi atau tidak diberi”.

Urgensi Meninggalkan Kemiskinan

                Kemiskinan selain bisa menggoyahkan keimanan dan mengarahkan diri pada kekufuran, kemiskinan kerap menimbulkan permasalahan dalam keluarga dan lingkungan. Di antara permasalahan yang timbul akibat kemiskinan adalah terancamnya kelangsungan hidup berumahtangga, tidak kondusifnya hubungan kaum miskin dengan kaum kaya, terjadinya pelacuran, pencurian, dan berbagai tindak kriminal lainnya.

Tidak ada acara lain untuk mengentaskan kemiskinan kecuali dengan berusaha untuk mengubahnya. Allah menegaskan dalam Al-Quran,” Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum kecuali kaum itu sendiri yang mengubah apa yang ada pada diri mereka” (Q.S. Ar-Ra’ad :11). Menurut sebagian cendikiawan muslim, yang dimaksud dengan “mengubah yang ada pada diri mereka” adalah sebab-sebab kemunduran dan kemiskinan, seperti malas, tidak cermat, kurang teliti, cepat bosan, lekas putus asa, tidak suka bertanya, tidur pagi hari, dan sebab-sebab kurang produktif lainnya.

Walaupun kaum lemah dan miskin menjadi tanggung jawab sosial orang -orang kaya, Islam tetap menuntut umatnya agar tidak berdiam diri dengan kemiskinan yang menderitanya. Hal ini sesuai dengan sabda Rasulullah SAW,” Kemiskinan hampir-hampir mendekatkan orang kepada pengingkaran terhadap Islam (kekufuran)”. Beliaupun berdoa,” Aku berlindung kepada-Mu dari kekafiran dan kekufuran” (H.R. An-Nasa’i).

Hidup Dalam Keseimbangan

                Rasulullah SAW menghendaki umatnya hidup dalam kewajaran dan keseimbangan, tidak berlebih-lebihan dalam membelanjarkan harta, tetapi tidak pula mempersulit hidup. Prinsip-prinsip Islam membenarkan kenikmatan duniawi selama dalam batas-batas tertentu dan tidak berlebihan. Maka Islam tidak mengajarkan kebencian terhadap dunia. Kebencian terhadap dunia tidak serta-merta membuat orang menjadi saleh.

            Jadi meskipun kita mengejar ridha Allah dan beramal untuk akhirat, namun janganlah melupakan urusan duniawi. Sehingga seorang muslim hendaknya membelanjakan hartanya untuk dunia dan akhirat secara seimbang. Seimbang bukan berarti dengan membagi hartanya 50% untuk dunia dan 50% akhirat. Makna seimbang adalah mengejar akhirat dengan tidak melupakan dunia dan menjalankan aktifitas duniawi dengan tidak melalaikan akhirat (Q.S Al-Qashas : 77).

            Berlimpahnya harta hendaknya tidak melalaikan individu muslim untuk mengejar akhirat dengan memperbanyak shadaqah dan infak di jalan Allah. Sebaliknya, janganlah ia menginfakkan seluruh hartanya di jalan Allah dan meninggalkan dirinya dan keluarganya dalam kondisi yang tidak sejahtera. Sesungguhnya harta yang yang harus diinfakkan untuk jalan Allah adalah apa yang lebih dari kebutuhan, sebagaimana yang dijelaskan dalam surat Al-Baqarah ayat 215 dan 219.

            Tidak ada sedekah kecuali apabila harta yang disedekahkan melebihi kebutuhan. Dengan kata lain, Islam menggariskan bahwa membelanjakan harta tidak boleh melampui batas, misalnya menafkahkan harta untuk orang banyak dalam jumlah lebih besar dari nafkah pribadinya. Peraturan ini ditetapkan agar ia dan keluarganya dapat hidup serba cukup dan tidak mengemis kepada orang lain.

The Solution is Sharing and Giving

            Suatu kali Rasulullah SAW ditanya oleh seorang sahabat, “Apabila kemiskinan dan kelaparan sudah merajalela dan meluas dikalangan masyarakat, siapakah orang yang paling bertanggung jawab dan juga paling berdosa?”. Mendengar pertanyaan ktitis itu, Rasulullah menjawab,” Sesungguhny Allah SWT mewajibkan zakat (sedekah) atas setiap harta muslim. Tidaklah mungkin seorang miskin kekurangan makanan dan pakaian, kecuali karena kebakhilan orang-orang kaya. Ingatlah, Allah SWT akan melakukan perhitungan dengan teliti (pertanggungjawaban) atas mereka, dan selanjutnya akan menyiksa dengan siksaan yang pedih” (H.R. At-Tirmidzi).

            Berdasarkan hadist tersebut, kita semakin paham bahwa kemiskinan dan kefakiran bukanlah semata-mata diakibatkan oleh kemalasan dan ketidakmampuan seseorang dalam mencari karunia Allah. Namun, penyebab utamanya adalah kebakhilan atau kekikiran yang melekat dalam diri orang-orang yang memiliki harta berlebih. Padahal Allah SWT mengencam mereka dengan siksaNya.

            Kekeliruan pikiran manusia dalam menyikapi keberadaan harta kekayaan harus dienyahkan. Prinsip bahwa manusia harus bekerja keras demi memenuhi kebutuhan dasar hidupnya, bahwa ia juga harus menjaga hak miliknya, dan adanya perbedaan tingkat ekonomi di antara manusia, memang diakui oleh Islam. Namun, itu bukan berarti bahwa Islam membenarkan sikap-sikap egois yang tidak memedulikan nasib kaum lemah. Pasalnya, harta kekayaan yang dimiliki seseorang pada dasarnya merupakan karunia dari Allah SWT. Karena itu, sudah seharusnya para hartawann  menolong saudaranya yang hidup serba kekurangan.

             Hendaknya kita senantiasa mensyukuri nikmat Allah dan jangan pernah takut bahwa harta yang kita miliki akan berkurang, karena setiap kali kita bersyukur, maka Allah akan memberikan tambahan nikmat. Hal ini memperjelas bahwa Islam menyerukan kepada umatnya untuk memiliki kepekaan social (social awareness) yang kemudian diikuti dengan pemberdayaan social (social empowerment). Dua sikap tersebut adalah salah satu bagian dari ungkapan rasa syukur kepada Allah SWT (Wahid 2010).

            Sesungguhnya golongan fakir miskin, memiliki bagian dari harta yang telah dianugerahkan oleh Allah SWT. Oleh karenanya, wajib bagi umat Islam untuk memberikan hak yang mereka miliki pada hartanya. Hal ini diperkuat oleh firman Allah SWT tatkala menjelaskan kriteria orang mukmin yang beruntung. “ Dan orang -orang yang dalam hartanya tersedia bagian tertentu. Bagi orang (miskin) yang meminta dan orang yang tidak mempunyai apa-apa (yang tidak mau meminta)” (Q.S. Al-Ma’arij:24-25).

            Berdasarkan pemaparan diatas, hendaknya kita sebagai muslim harus memiliki pandangan dan sikap yang sesuai berdasarkan tuntunan Rasulullah SAW terhadap kekayaan dan kemiskinan. Bahwa pemilik mutlak harta adalah Allah SWT, manusia adalah pemegang amanah. Harta pada hakikatnya adalah baik, mulia dan indah, miskin harta dapat membahayakan aqidah dan iman, belanjakan harta dengan bijaksana, proposional dan tidak boros, dan terakhir setelah memperoleh rezeki hendaklah bersyukur dan berbagi dengan sesama terutama fakir miskin dan kaum duafa.

Pustaka:

Antonio, M.S. 2010. Ensiklopedi Leadership & Manajemen Muhammad SAW “The Super Leadar Super Manager”, Edisi: Business & Entrepreneurship. Jakarta : Tazkia Publishing.

Wahid, A.A. 2010. Tafsir Ekonomi Kontemporer Kajian Tafsir Al-Quran tentang Ekonomi Islam. Jakarta: Madani Publishing House.

www.bps.go.id

www.cnbcindonesia.co.id

by Nur Majdina, S.E.I., M.Si.

Pengarahan Ujian Akhir Semester (UAS) Semester Genap STIE Darunnajah Jakarta

Ahad (27/6/2021) Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi (STIE) Darunnajah Jakarta mengadakan agenda “Pengarahan Ujian Akhir Semester (UAS) Semester Genap STIE Darunnajah Jakarta” dengan tujuan mempersamakan resepsi Ujian Akhir Semester (UAS) dan memberikan semangat mahasiswa dalam mengerjakan soal UAS.

Pada pengarahan Ujian Akhir Semester (UAS) Semester Genap Ketua STIE Darunnajah Jakarta memberikan pesan kepada mahasiswa senantiasa memperbarui niat kita dalam perkuliahan dan semangat lagi dalam menuntut ilmu ini selagi kita masih bernafas di muka bumi ini, Carilah ilmu dari buyan sampai ke liang lahat.

Semangat dalam dalam menuntu ilmu ada 3 macam :

  1. Semangat di awal
    • Semangat di awal adalah semangat yang sangat umum sekali dirasakan oleh seorang penutut ilmu. pasti dalam permulaan menuntut ilmu pasti dia sangat semangat dalam berlajar, karena sudah tidak sabar lagi untuk mendapatkan ilmu yang baru. Justru yang tidak semangat di awal perlu dipertanyakaan kesemangatnnya dalam belajar.
  2. Semangat di tengah
    • Semangat di tengah adalah semangat yang dirasakan bagi seorang penuntut ilmu karena di awal pembelajar masih kurang semangat belajar dan masih banyak kekurangan, olehkarena itu orang ini baru sadar untuk menuntuk ilmu
  3. Semangat di akhir
    • Semangat di akhir adalah semangat yang banyak juga dirasakan oleh penuntut ilmu, karena di awal dan di tengah dia masih kurang semangat dalam belajar. Kemudian di akhir-akhir pembelajaran baru semangat dalam belajar, hanya karena ujian semata atau memang sadar dalam belajar tersebut.

Pondok kita ini laksana lautan yang luas, sampah, bangkai dan kotor akan terpisah dan terpinggirkan ke tepi laut. karena pondok itu tempat bagi orang suci dan baik. Perbanyak kesibukan diri kalian di usia muda dalam mengembangkan skill, bisnis dan belajar menuntut ilmu. Karena itulah yang akan membawa kalian meraih kesuksesan di masa depan.

Ujian adalah gambaran kita dalam menghadapi ujian hidup ini, apakah kita menghadapinya dengan sungguh-sungguh atau main-main. Itulah gambaran kalian dalam menghadapai ujian hidup ini. Ujian juga akan akan menjadi indikator keseriusan kalian dalam menyerap ilmu yang diberikan oleh dosen. Semasa ujian kalian harus dekat dengan Allah karena-Nya yang membuat hidup ini.

Habit Darunnajah Business school semoga menjadi baju atau almamater mahasiswa DBS :

  1. Tilawah Al Quran (Al Mulk, Al Waqiah, Ar Rahman, Yasin)
  2. Sholat Tahajud
  3. Sholat Dhuha
  4. Puasa Sunnah
  5. Bersedekah
  6. Berbakit Kepada Orang Tua
  7. Sholawat

Hal inilah yang harus kalian banggakan sebagai mahasiswa STIE Darunnajah Jakarta, Karena kalian dituntut untuk kuliah, kalian juga senantiasa beribadah kepada Allah SWT dengan amal-amalan diatas . Keberhasilan dan kegagalan kita tergantung kepada orang tua, perbanyaklah kalian meminta doa ke dua orang tua.

Sukses itu hari berhasil itu hari ini bukan hari esok, Mulailah dengan bangun di pagi hari lakukan kegiatan produktif dan laksanakan kegiatan ini secara rutin selama 1 bulan. Inilah yang akan merubah pola fikir dan mindset kalian untuk sukses. Karena setiap pergerakan dan perpindahkan akan memiliki keberkahan.

Semangat dan sukses bagi para mahasiswa STIE Darunnajah Jakarta dalam menghadapai Ujian Akhir Semester (UAS) ini. Aamiin

Rapat Koordinasi Kampus Mahasiswa Murni Darunnajah Bersama Tim STAIDA Jakarta, Bogor dan STIE Darunnajah Jakarta

Sabtu (26/9/2021) Tim STAIDA Jakarta, Bogor dan STIE Darunnajah Jakarta mengadakan “Rapat Koordinasi Kampus Mahasiswa Murni Darunnajah Jakarta” agenda ini bertujuan untuk mengetahui persiapan dari saranaprasaran, sumber daya manusai dan jumlah mahasiswa murni.

Agenda ini dimulai dari tinjauan ke Pondok Pesantren Darunnajah 17 Ciomas Serang dengan bersilaturohim ke wakil pengasuh ustadz samsul dan pengasuh mahasiswa murni ust fajar nurochman. Diawali dengan perbincangan hangat dan dilanjutkan dengan berkeliling ke area kampus mahasiswa murni guna mengetahui perkembangan bangunan tersebut.

Setelah mengelilingi proses pembangunan kampus mahasiswa murni di DN 17 setelah itu beranjak ke kampus mahasisi murni di DN 14 guna Rapat Koordinasi dengan Tim STAIDA Jakarta, Bogor dan STIE Darunnajah Jakarta perihal kedatangan, peraturan, teknis akademik, saranaprasaran, sdm dan jumlah mahasiswa murni.




Menumbuhkan Jiwa Entrepreneur dan Mengembangkan Manajemen Usaha Darunnajah Jakarta

Rabu (23/6/2021) Dalam rangka agenda rentetan Pembekalan Guru-Guru Baru Darunnajah Jakarta perlu diberikan orientasi, pengarahan dan motivasi perihal jiwa-jiwa keguruan maupun entrepreneur sebelum mereka terjun langsung ke dunia pengajaran. Oleh karena itu panitia mengadakan pembekalan ini yang bertujuan untuk menyiapkan para guru-guru sekalian dalam mendidikan para santrinya.

Adapun materi pada hari ini adalaha “Menumbuhkan Jiwa Entrepreneur dan Mengembangkan Manajemen Darunnajah Jakarta” dengan pemateri Al Ustadz Samiyono, M.Pd. selaku Ketua STIE Darunnajah Jakarta. Agenda ini dilaksanakan di Aula Ghazali untuk peserta guru putra di pagi hari dan Aula Basement untuk peserta guru putri di malam hari.

Tidak bisa dipungkiri seiring berjalannya zaman ini banyak hal-hal yang berkembang pesat antara lain dari segi teknologi, digita, sosial dan lain sebagainya. Olehkarena itu kami bersama imbangi dari berbagai skill yang perlu sama kita persiapakan, agar kita tidak tertinggal zaman ini. Adapun 3 bisnis yang akan selalu ramai seiring waktu antara lain :

  1. Dunia Kuliner
  2. Dunia Kesehatan
  3. Dunia Pendidikan

3 bisnis inilah yang akan selalu ramai dengan syarat harus adanya inovasi dan hal-hal yang baru dalam mengembakan bisnis tersebut sehingga akan selalu bersaing dengan pesaing lainnya.

 

Selain itu ada 7 Cara Sukses Bisnis antara lain ;

  1. Memiliki Mimpi (Berfikir Positif, Besarkan Visi & Mulai dengan Otak Kanan)
    • Jangan Pernah Takut Untuk Bermimpi dan masih banyak lagi kalimat yang menjadikan orang berhasil karena mimpi. Impian akan mengarahkan orang kemana akan melangkah, bagaimana akan berbuat dan bersikap. Dengan impian orang akan tau dimana titik akhir dari perjuangan. Dan segera setelah mencapai impian itu, orang dapat menggantikannya dengan impian lain yang belum tercapai.
  2. Fokus pada 1 usaha
    • Usaha yang fokus pada satu hal, dapat membuat kita 100% fokus untuk mengembangkan usaha itu. Kaya cinta aja, kalo cuma 1 kan gak akan terbagi dengan yang lain. Fokus pada satu bidang usaha? Mungkin Anda berpendapat: “Bukannya semakin banyak bidang usaha semakin banyak penghasilan? Karena gagal di satu usaha, kita bisa memperoleh hasil dari usaha lainnya.”
  3. Berkolaborasi
    • Kolaborasi bisnis juga biasanya cukup efektif dipakai oleh semua pemilik bisnis baik itu bisnis kecil, menengah dan besar. Dengan adanya kolaborasi bisnis secara otomatis akan memiliki koneksi atas penggabungan perusahaan dengan pihak kolega lainnya, demi mencapai suatu tujuan agar bisnis Anda lebih berkembang dari yang sebelumnya.
  4. Memiliki Mentor Bisnis (Tempat Bertanya & Berkonsultasi )
    • Terjun dalam dunia bisnis yang kejam dan sulit membuat banyak orang akhirnya tersadar akan pentingnya memiliki mentor bisnis. Dengan mengandalkan mentor bisnis, mereka bisa mendapatkan bimbingan dan arahan dalam setiap keputusan atau arah bisnis yang akan dibuatnya.
    • Tanpa adanya mentor bisnis, pengusaha pemula akan rentan salah jalur dan salah mengambil keputusan. Alhasil mereka bisa terjebak dalam keputusan bisnis mereka sendiri.
  5. Belajar Mengatur Keuangan
    • Tidak bisa dipungkiri bahwa kemampuan mengelola keuangan sangatlah penting. Selain untuk mencapai kemandirian finansial di masa yang akan datang. Ada berbagai cara untuk mengelola pendapatan kita yaitu dengan investasi emas ataupun reksada, hal inilah yang akan membuat passif income dan sangat menguntungkan sekali di masa depan.
  6. Memiliki Amalan Harian
    • Amat banyak amalan-amalan yang dapat kita jalani, tapi untuk tulisan ini saya hendak menuliskan sedikit saja. Walaupun hanya sedikit yang saya sampaikan, kalau bisa kita amalkan dengan istiqomah, maka kita bisa memperoleh sesuatu yang luar biasa.
    • Sebaik-baiknya amalan adalah yang rutin atau istiqomah walaupun sedikit.
  7. Rutin Bersedekah
    • Sedekah merupakan salah satu amalan yang dapat mengantarkan umat Islam menuju surga Allah. Selain untuk mendekatkan diri kepada Allah, secara sosial sedekah juga bermanfaat untuk mengurangi ketimpangan dengan cara membantu kaum yang lemah secara ekonomi. Karena di setiap harta kita terdapat hak orang lain, mungkin jadi itulah yang dapat menjadi harta langkah menuju kesuksesan.

Semoga dengan ilmu dan pengalaman yang baru ini dapat menjadi motivasi kalian semua guna kesuksesan di masa mendatang kelak. Aamiin



Halal bi Halal Virtual bersama Civitas Akademika STIE Darunnajah Jakarta

Selasa (1/6/2021) Mengawali permulaan setelah liburan pasca idul fitri 1442 H civitas akademika STIE Darunnajah Jakarta mengadakan kegiatan Halal bi Halal virtual bersama para pengelola, dosen dan mahasiswa sekalian.

Adapun tujuan dilaksanakan agenda ini untuk saling maaf memaafkan seluruh perbuatan dan kegiatan yang telah berjalan selama 2 semester ini, sehingga tidak ada beban ataupun kesalahan masih terpendam dari masing-masing personal.

Agenda ini diawali dengan kata sambutan Ketua STIE Darunnajah Jakarta yaitu Samiyono, M.Pd. beliau menyampaikan, saat ini masih dalam suasan bulan syawwal mari kita saling maaf memaafkan seluruh kegiatan selama ini dari tutur kata dan perbuataan.

Bagi seluruh civitas akademika STIE Darunnajah Jakarta dosen, tim pengelola dan seluruh mahasiswa bisa memperbarui niat dan semangat kalian dalam berjuang dalam memperkembangkan kampus bersamaan ini. Janganlah kalian give, give and take akan tetapi give, give and give. Jika kalian membantu kampus ini sepenuh hati, pasti kalian akan dibantu pula.

Mahasiswa yang masih perkuliahan di hari pertama kemarin, kami harapan selama 3 minggu ini kalian harus aktif. karena dosen sudah mengorbankan waktu dan ilmunya untuk kalian. Jangan lupa di tanggal 28 Juni akan dilaksanakan Ujian Akhir Semester (UAS) Semester Genap, olehkarena itu kalian harus rajin meningkuti agar tidak ketinggal pelajaran.

Selanjutnya penyampaian perwakilan dari dosen STIE Darunnajah Jakarta Engga Jalaludin, M.M. beliau menyampaikan bahwasannya mahasiswa perdana ini harus lebih sukses dari dosen saat ini, karena masa yang baik adalah murid lebih sukses dari gurunya. Carilah potensi dan passion kalian guna kesuksesan kalian kelak di masa depan.

Setelah kalian memiliki adik kelasa mahasiswa pada nantinya, harus menjadi uswah dan memberikan contoh yang baik bagi mereka. karena kalian adalah panutan dan kakak mahasiswa mereka.

Kami ucapakan terima kasih kepada seluruh civitas akademika STIE Darunnajah Jakarta dosen, tim pengelola dan seluruh mahsiswa yang hadir dan berpartisipasi dalam kelancaran agenda ini. Syukron